Title : untitled (alias belun ada judul dari author na. xD)
Author : Yuka-chan
--------------------
Ah! Indahnya punya sekolah dan teman-teman baru. Itulah yang dibayangkan oleh Kai saat dia pergi ke sekolah barunya. dia optimis akan mendapat banyak teman. Kai melangkahkan kakinya ke kelas 3-C yang telah ditetapkan sebagai kelasnya yang baru. Semua murid di kelas itu melihat Kai secara seksama seperti Kai adalah korban baru di sarang penyamun.
“Ohayou, minna san!” sapa Kai waktu masuk ke kelas barunya. Namun tak seorangpun yang membalas sapaannya itu. Kai selalu berpikir positif sehingga dia berpikir bahwa mungkin lama kelamaan dia akan terbiasa.
Berhubung bel masuk belum terdengar, Kai mendekati seorang laki-laki yang terlihat diam di pojok ruang kelasnya. Tanpa basa-basi, Kai mengajak murid itu ngobrol.
“Hajimemashite, Yutaka Uke desu. Douzo yoroshiku onegaishimasu!” Kai mengawali perbincangan. Murid laki-laki tersebut yang semula hanya melihat jendela, mulai mendongakkan kepala dan melihat Kai.
“Anak baru ya?” tanya murid tersebut kaku.
“Hai!” Kai menganggukkan kepalanya. “Boleh tahu namamu?”
“Namaku?” tanya murid itu. Kai mengangguk sekali lagi. “Shiroyama Yuu,” jawab murid itu lalu kembali melihat jendela lagi.
“Shiroyama-kun, kau boleh memanggilku Kai saja. Biar terlihat akrab,” kata Kai. Namun murid itu tidak menggubris Kai.
Tiba-tiba ada seorang murid laki-laki yang menghampiri Kai dan menyeret tangan Kai supaya segera pergi dari bangku Aoi.
“Kau pasti anak baru di sini. Iya kan?” tanyanya dan Kai hanya mengangguk. “Dan aku ingin memberitahumu jangan sekali-sekali kau mengganggu Aoi,”
“Maksudmu Shiroyama-kun?” tanya Kai.
“Betul. Kau harus jauh-jauh dari dia. Karena dia sangat berbahaya,” kata murid itu. “Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Takashima Kouyou. Panggil saja Uruha,”
“Oh! Yutaka Uke desu. Panggil saja Kai,” kata Kai. “Memang kenapa dengan Shiroyama-kun?”
“Sudahlah! Yang pasti kau harus menjauhi dia jika kau masih ingin hidup,” kata Uruha.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru dari Kanagawa. Namanya Yutaka Uke. Yutaka-san, perkenalkan dirimu,” kata Takarai sensei mengawali pelajaran pertama.
“Hajimemashite! Yutaka Uke desu. Douzo Yoroshiku onegaishimasu! Tapi kalian boleh panggil aku Kai saja,” kata Kai.
“Baik, Yutaka-san silakan duduk di...” Takarai sensei mencari-cari tempat duduk yang masih kosong. “Ah! Bangku di sebelah Shiroyama-san kosong. Kau bisa duduk di sana,” Kai mengangguk dan segera menuju bangkunya yang berada di sebelah Aoi. Aoi seperti biasa dia hanya memandang Kai sebentar lalu kembali melihat ke arah luar jendela.
“Ah!! Akhirnya selesai juga untuk hari ini,” kata Kai. Dia segera bergegas pulang ke apartemen barunya.
Sesampainya dia di apartemennya, Kai terkejut melihat ada sesosok laki-laki berdiri di depannya. Ternyata yang Kai lihat adalah sosok Aoi yang seperti biasa memperlihatkan wajah yang tak bersahaja.
“Hah? Shiroyama-kun? Sedang apa kau di sini?” tanya Kai dengan senyum. Namun Aoi tidak menjawab pertanyaan Kai dan dia langsung masuk ke dalam apartemennya.
“Kenapa dia sedingin itu dengan orang ya? Atau mungkin aku yang salah mengucapkan kata-kata? Tidak mungkin aku salah ngomong,” kata Kai pada dirinya sendiri tapi Kai segera mengabaikannya dan masuk ke dalam apartemennya.
Terdengar suara pintu yang dikunci dari luar. Kai segera pergi melihat keluar. Ternyata Aoi yang mengunci pintu apartemennya.
“Ah! Shiroyama-kun! Apa kau sudah makan malam? Apa kau mau makan malam denganku? Aku sudah memasak makanan yang enak malam ini,” ajak Kai.
“Tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” jawab Aoi ketus dan langsung meninggalkan Kai. Kai memanyunkan bibirnya dan langsung masuk ke dalam.
Sudah satu minggu setelah Kai masuk ke sekolah barunya itu. Sudah satu mingu juga dia bertetangga dengan Aoi. Tapi Aoi selalu cuek dengan Kai. Untung saja Kai masih bisa berteman dengan Uruha.
Malam itu, udara sedikit agak dingin. Kai mengetuk apartemen Aoi. Tak lama kemudian, Aoi muncul membukakan pintu.
“Shiroyama-kun, malam ini sedikit dingin. Jadi aku membawakanmu sup panas supaya kau tidak kedinginan,” kata Kai.
“Oh! Arigatou na!” kata Aoi sambil mengambil mangkok dari tangan Kai dan langsung menutup pintu apartemennya. Tapi Kai berhasil membuat Aoi menundanya.
“Chotto! Bolehkah aku masuk?” tanya Kai.
“Untuk apa kau masuk? Di dalam tak ada apa-apa,” jawab Aoi.
“Iie. Aku cuma ingin bertamu saja. Selama aku berada di sini, kau begitu dingin padaku. Jadi aku sangat ingin mengenalmu lebih dekat lagi,” kata Kai.
Dengan sedikit tidak senang, Aoipun memperbolehkan Kai masuk ke apartemennya. Kai melihat apartemen yang sangat rapi untuk ukuran seorang laki-laki.
‘Wah, kau ternyata cukup rapi juga ya orangnya? Aku tak menyangka,” kata Kai.
“Duduklah!” Aoi mempersilakan Kai duduk di sofa.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen Aoi. Segera Aoi membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Uruha.
“Hai, Aoichan!” sapa Uruha.
“Ada apa kau ke sini?” tanya Aoi sangat dingin.
“Aku hanya ingin membawakan sup untukmu. Aku rasa malam ini begitu dingin. Jadi aku pikir kau pasti kedinginan,” jawab Uruha.
“Gomen! Kau terlambat. Sudah ada seseorang yang membawakan sup untukku. Jadi kau sebaiknya pulang saja,” kata Aoi mengusir. Kai yang penasaran siapa yang datang, segera pergi ke depan.
“Hah? Uruha-kun?” Kai agak terkejut.
“Ah! Kai-kun? Ada apa kau di apartemen Aoichan?” tanya Uruha penasaran.
“Aku baru saja membawakan sup untuk Shiroyama-kun. Aku pikir dia pasti kedinginan,” jawab Kai. Mendengar jawaban dari Kai, Uruha segera memberikan sup yang dibawanya kepada Aoi dan segera pergi dari tempat Aoi.
‘Kenapa dia?” tanya Kai kepada Aoi.
“Sudahlah. Kau tidak perlu memikirkan dia. Dia memang selalu seperti itu,” jawab Aoi sambil menyuruh Kai masuk ke dalam apartemennya lagi.
Aoi menunggu di depan apartemen Kai. Dan tak lama kemudian kai keluar dari apartemennya dan terkejut karena Aoi sudah erada di depannya.
“Oh! Shiroyama-kun! Ada apa?” tanya Kai.
“Jangan panggil aku dengan panggilan seperti itu lagi. Panggil saja aku Aoi,” kata Aoi masih sedikit dingin.
“Oh! Aoi-kun, ada apa? Mau berangkat bersama?” tanya Kai sekali lagi.
‘Ee to... aku mau mengembalikan mangkok sup kemarin. Arigatou na! Sup buatanmu enak sekali,” kata Aoi.
“Ah! Jangan berlebihan memujiku. Tapi terima kasih juga kau sudah mau mencicipi sup buatanku,” kata Kai sambil tersenyum. “Sudah hampir terlambat! Bagaimana kalau kita berangakt bersama?” ajak Kai. Aoi menganggukkan kepalanya.
Selama berjalan bersama, ternyata Aoi mulai menyukai berbicara dengan Kai. Mereka sudah mulai bercanda. Dan kejadian tersebut dilihat oleh Uruha.
Sesampainya di kelas, Kai menghampiri Uruha yang sudah datang duluan. Namun, Uruha segera pergi meninggalkan Kai dan lebih memilih bergabung dengan Tetsu dan Yukihiro.
Di tempat lain, Reita dan Ruki menghampiri bangku Aoi.
“Nee Aoi, ternyata kau mulai mencair dengan kedatangan Kai di kelas ini,” sindir Reita.
“Apa maksudmu?” tanya Aoi.
“Sudahlah. Kau tak bisa menyembunyikan hal itu dari kami berdua. Kau pasti sudah mulai menyukai kehadiran Kai kan?” kata Ruki menyindir.
“Aku benar-benar tidak tahu maksud kalian,” kata Aoi sedikit sebal dengan kedua temannya itu.
“Lihat, Ruki-chan! Teman kita satu ini sudah mulai mencair hatinya. Yang semula dia sanagt beku sebeku gunung es yang ada di kutub, sekarang mulai ada kehangatan di dirinya,” kata Reita yang sengaja ingin menyindir Aoi.
“Yosh! Atau mungkin teman kita ini sedang jatuh cinta? Karena aku belum pernah melihatnya seperti ini,” kata Ruki.
“Ya sudah, jangan ganggu Aoi yang sedang jatuh cinta. Kita tinggalkan saja dia. Ayo sayang!” Reita mengajak Ruki meninggalkan Aoi sendiri.
Ada apa dengan Uruha-kun? Kenapa dia menghindariku? Padahal aku tidak melakukan sedikitpun kesalahan. Kai melamun di bawah pohon di halaman sekolah.
Reita dan Ruki yang melihat Kai melamun segera mendatangi Kai.
“Nee Kai-kun!” Reita menepuk bahu Kai yang membuat Kai terkejut.
“Oh, Reita-kun, Ruki-kun! Kalian mengagetkan aku saja,” kata Kai.
“Makanya, kau jangan kebanyakan melamun. Memang apa yang kau lamunkan?” tanya Ruki.
“Oh, iie. Aku hanya berpikir tentang Uruha-kun,” kata Kai.
“Ada apa dengan Uruha?” tanya Ruki ingin tahu.
“Entahlah! Wakaranai yo! Tiba-tiba saja dia mengindar dariku padahal aku tidak melakukan apa-apa,” Kai mulai bercerita.
Ruki dan Reita saling berpandangan. Sepertinya pikiran mereka sama tentang masalah Kai.
“Apa ini ada kaitannya dengan Aoi?” tanya Ruki lirih kepada Reita.
“Entahlah. Tapi itu mungkin saja,” jawab Reita agak berbisik.
“Apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Uruha-kun?” tanya Kai pada Ruki dan Reita.
“Tidak! Kami tidak tahu!” jawab Ruki dan Reita bersamaan dan mereka langsung meninggalkan Kai sendirian.
“Kenapa mereka aneh? Hari ini semua tampak aneh. Mulai dari Aoi-kun yang tiba-tiba lembut, Uruha-kun yang tiba-tiba menghindar dariku, sekarang giliran Reita-kun dan Ruki-kun yang tiba-tiba bersikap aneh,” kata Kai. “Entahlah!”
“Kenapa kau? Hari ini kelihatannya kau selalu cemberut tidak seperti biasanya yang selalu murah senyum,” tanya Aoi khawatir.
“Iie. Daijoubu. Aku hanya kepikiran tentang Uruha-kun,” Kai berkat pada Aoi.
“Memang ada apa dengan Uruha?” tanya Aoi.
“Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia menghindariku. Aku jadi takut aku punya salah dengannya,” cerita Kai.
“Sudahlah. Tak perlu kau pikirkan. Dia memang selalu begitu. Lama kelamaan dia pasti mau berbicara denganmu lagi,” kata Aoi sambil mengusap-usap kepala Kai.
“Aoi-kun, tumben kau mengusap-usap kepalaku?” Kai benar-benar bingung dengan perilaku Aoi hari ini.
“Ah, gomen na! Aku... aku hanya ingin kau tidak usah khawatir dengan Uruha,” Aoi menghentikan mengusap-usap kepala Kai sambil menundukkan kepalanya. Kai hanya tersenyum kecil sambil memandang Aoi.
“Nee, Kai-cha... Ah, gomen. Maksudku Kai-kun,” Aoi tampak salah tingkah.
“Daijoubu. Kau boleh memanggilku apapun sesukamu. Kita kan berteman. Palagi kita tinggal bersebelahan,” kata Kai sambil tersenyum.
“Ok! Aku akan memanggilmu Kai-chan. Kai-chan, mulai sekarang kita berangkat dan pulang bersama ya!” pinta Aoi.
“Kau mau? Hontou ka?” Kai sangat senang mendengar Aoi meminta hal itu. “Yokatta! Akhirnya kau mau berteman denganku!”
Tanpa mereka sadari, Uruha membuntuti mereka dari belakang. Uruha tampak sangat kesal melihat kedekatan mereka berdua.
Kai saat itu duduk di tempat favoritnya yaitu di bawah pohon di halaman sekolah. Dengan tenang dia membaca sebuah buku. Namun tiba-tiba ada tiga orang murid laki-laki dari kelas lain datang menghampiri Kai.
“Yutaka-kun!” panggil salah satu murid tersebut.
“Hai!” sahut Kai. “Nande?”
“Bisakah kau ikut kami sebentar? Takarai sensei memanggilmu di gudang sekolah,” kata murid itu.
“Takarai sensei? Ada apa dia memanggilku?” tanya Kai.
“Wakaranai,” jawab murid itu. “Ayolah! Cepat ikut kami. Aku takut Takarai sensei marah karena kau tidak segera datng!” ajak murid itu.
Tanpa curiga Kai mengikuti mereka sampai ke gudang sekolah. Gudang sekolah selalu sepi. Tak ada seorang muridpun yang mau ke situ.
Setelah Kai sampai di gudang sekolah, dia bertanya kepada ketiga murid yang telah menyuruhnya datang ke tempat itu.
“Mana Takarai sensei? Kenapa dia tidak kelihatan?” tanya Kai. Tapi ketiga murid tersebut malah memojokkan Kai ke dinding sehingga Kai tidak bisa lari kemana-mana. Tak lama, hantaman demi hantaman meluncur ke badan Kai. Kai yang syok tidak dapat membela diri sama sekali sehingga dia hampir pingsan.
Tapi tiba-tiba entah baru dari mana, Aoi muncul di sekitar gudang sekolah dan melihat Kai dipukul oleh ketiga murid tadi.
“HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH!!!” Aoi sangat marah dan segera menghajar ketiga murid yang telah menghajar Kai duluan. Ketiga murid itu tidak bisa menahan pukulan yang diberikan Aoi. Sehingga ketiga murid itu meminta maaf kepada Aoi.
“AWAS KALIAN!! JIKA KALIAN BERANI MENGGANGGU KAI LAGI, AKAN KUBUAT KALIAN TIDAK BISA HIDUP LAGI!!! MENGERTI!!!” teriak Aoi kepada tiga murid itu yang segera pergi karena takut akan Aoi.
Aoi segera membawa Kai yang pingsan ke ruang kesehatan. Dengan panik Aoi menunggui Kai tersadar sambil memegangi tangan kiri Kai.
“Lihat kan, Rei-chan. Aoi pasti benar-benar sudah jatuh cinta dengan Kai. Aku tidak pernah melihat dia menjaga temannya yang sedang sakit seperti itu,” kata Ruki yang sengaja mengintip Aoi dari luar jendela yang sedikit terbuka.
“Yosh! Kau benar, Ruki-chan. Bahkan waktu aku tertabrak mobil dan hampir mati saja dia tidak pernah peduli. Hanya kau yang peduli padaku. Padahal aku termasuk sahabat Aoi dari kecil,” ucap Reita.
Sejak kejadian Kai dipukuli oleh tiga orang murid tak dikenal, Aoi selalu berada di sisi Kai. Dia takut Kai mengalami kejadian seperti yang baru saja dialami. Kai sangat senang dia bisa semakin dekat dengan Aoi yang semula terlihat dingin padanya. Tapi dia masih saja memikirkan Uruha yang semakin hari semakin jauh dari Kai.
“Tenang saja, Kai-chan. Aku akan mencari tahu siapa dibalik kejadian itu. Aku janji,” kata Aoi.
“Ah, daijoubu! Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi Aoi-chan,” kata Kai. “Tapi aku masih kepikiran dengan Uruha-kun. Kenapa dia semakin menjauh dariku?”
“Mungkin dia salam paham denganmu,” jawab Aoi dan membuat Kai tambah penasaran.
“Apa maksudmu salah paham?” tanya Kai.
“Ee too... Gomen, aku salah bicara,” kata Aoi.
“Aoi-chan,”
“Kai-chan”
Mereka secara bersamaan memanggil. Wajah Aoi terlihat merah.
“Kau duluan, Kai-chan,” suruh Aoi.
“Ah tidak. Kau saja duluan, Aoi-chan,” suruh Kai.
“Baiklah. Aku duluan yang akan bilang,” Aoi menarik napas dalam-dalam dan mulai bicara.
“Kai-chan, sebenarnya aku... aku.. aku...” kata Aoi terpotong-potong.
“Kau kenapa, Aoi-chan?” tanya Kai.
“Aku... “ kata-kata Aoi terpotong lagi. Namun dengan berani dia mendekatkan bibirnya sampai menyentuh bibir Kai. Dan Aoi mencium Kai.
“Aoi-chan! Hentikan! Apa maksudnya ini?” Kai sangat terkejut dengan Aoi.
‘Aku mencintaimu, Kai-chan,” akhirnya kalimat itu keluar juga. Pikir Aoi. Dengan agak memaksa, Aoi mencium Kai. Dia dengan segera melumat bibir Kai seakan memaksa Kai membuka mulutnya sehingga lidah Aoi bisa bertemu dengan lidah Kai.
“Matte, Aoi-chan!” Kai mendorong Aoi.
“Gomen na, Kai-chan. Aku pasti sedang tidak konsentrasi. Maafkan aku!” cepat-cepat dia beranjak dari sofa Kai dan segera meninggalkan apartemen Kai.
Tapi saat Aoi melangkahkan kakinya untuk meniggalkan apartemen, Kai berlari dan menghalangi Aoi pergi. Tanpa ragu dia memeluk tubuh Aoi dan Aoi menyambut Kai dengan memeluk Kai.
“Aishiteru, Aoi-chan,” ucap Kai.
“Na... Nani? Kau juga mencintaiku?” Aoi hampir tidak percaya dengan pernyataan Kai barusan. Aoi mengangkat kepala Kai dengan lembut. Setelah itu, Aoi mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir Kai. Dan akhirnya mereka berciuman. Aoi melumat bibir Kai dan Kai segera menyambut lidah Aoi bertemu dengan lidahnya.
Sambil berciuman, mereka kembali masuk dan segera menutup pintu. Aoi menuntun Kai ke kamar tidur Kai dan merebahkan Kai di tempat tidurnya yang tertata rapi.
Tangan Aoi mulai gatal dan dengan penuh nafsu dia melepas semua kancing kemeja Kai dan melumat leher Kai. Kai menarik rambut Aoi dan mendesah pelan saat tangan Kai bergerilya meraba bagian dadanya dan akhirnya Aoi melumat semua bagian tubuh Kai.
“Nnhhhh....” Kai mendesah pelan.
Mendengar desahan Kai, Aoi semakin semangat dengan Kai. Aoi mulai melepaskan pakaiannya dan mulai melepas celana Kai.
“Aarrrrrrrghhhhh... Aoi... aishiteru...” desah Kai.
Mereka melakukan hal itu sampai mereka kelelahan dan akhirnya Kai tertidur pulas. Aoi yang terlihat kelelahan, menyelimuti badan Kai yang tak memakai baju lalu mencium kening Kai.
“I love you, Kai-chan,” kata Aoi berbisik di telinga Kai.
Kai mencari-cari sosok Uruha. Namun dia tak menemukan temannya itu. Setelah mencari beberapa menit, akhirnya dia menemukan Uruha. Dia menemukannya di gudang sekolah tempat Kai pernah dipukuli.
Dengan keberanian, Kai mendekati Uruha yang sedang membaca buku.
“Uruha-kun,” panggil Kai. Uruha menoleh mencari siapa yang memanggilnya. Saat dia tahu yang memanggilnya adalah Kai, Uruha segera beranjak pergi dari gudang sekolah.
“Matte, Uruha-kun!” teriak Kai. Uruhapun berhenti dan kembali menoleh Kai.
“Nande?” tanya Uruha. “Cepat katakan apa maumu? Aku tak punya banyak waktu,”
“Anoo... Uruha-kun, kenapa kau selalu mengindar dariku? Sebenarnya apa salahku?” tanya Kai.
“Salahmu? Kenapa kau tak tanya dengan dirimu sendiri apa salahmu?” jawab Uruha ketus.
“Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak tahu.
Uruha menghampiri Kai dan tiba-tiba dia mencengkeram kerah seragam Kai.
“Nee... Aku akan beritahu apa salahmu! Kau mau tahu kan?” kata Uruha sangat kasar. “Dulu sudah aku katakan padamu, jangan dekati Aoi-chan!!! KAU INGAT ITU!!!” Kai mengangguk.
“Kau dulu pernah bilang bahwa Aoi-chan adalah orang yang berbahaya. Tapi aku tidak merasakan aku pernah dijahati oleh Aoi-chan,” kata Kai.
“Kau ini bodoh atau apa sih? Hah! APA KAU TIDAK BISA MENGERTI TEMANMU INI!!!” bentak Uruha. “Apa kau tidak merasakan bahwa AKU MENCINTAI AOI, HUH!!!”
“Na... nani??” Kai sangat terkejut mendengar pengakuan Uruha barusan. Serasa dia merasa benar-benar bersalah kepada Uruha.
“Kau baru sadar, huh!! Aku sudah tahu kau pasti tertarik dengan Aoi-chan. Karena itu aku memperingatkanmu supaya kau jauh-jauh dari Aoi-chanku!” kata Uruha. Kepalan tangan Uruha tiba-tiba mendarat di perut Kai.
“Ittai...!!” jerit Kai.
“Sakit, huh!! Itu tak seberapa dibandingkan dengan hatiku saat melihat kalian berjalan bersama setiap hari, dan kemarin saat aku ingin ke apartemen Aoi-chan, kalian sedang berpelukan,” Uruha menceritakan semua yang ada dalam hatinya.
“Gomen na, Uruha-kun,” air mata Kai mulai meneteskan air mata mendengar pengakuan Uruha. Dan dia sangat merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan kemarin dengan Aoi.
“Dan satu lagi, akulah yang menyuruh murid-murid itu untuk menghajarmu. Karena kau tahu? AKU SANGAT MUAK MELIHAT KALIAN BERDUA!!!” sekali lagi hantaman tangan Uruha mendarat di perut Kai.
“Hontou gomen, Uruha-chan!!” Kai menangis bukan karena perutnya. Tetapi hatinya benar-benar terluka dengan perkataan Uruha.
Doushite?? Doushite?? Kenapa bisa jadi seperti ini? Ternyata Uruha mencintai Aoi-chan. Kenapa aku sampai tidak tahu itu!! Dan kenapa aku kemarin melakukannya dengan Aoi?
Hati Kai benar-benar terluka. Dia benar-benar takut melukai teman pertamanya. Tapi dia juga tidak bisa melepaskan Aoi yang dia cintai. Kai sudah tidak tahan dengan semua ini. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan dia pingsan.
Uruha terkejut melihat Kai yang pingsan. Dia mendekap tubuh Kai yang lemas dan menepuk-nepuk pipi Kai.
“Nee.. Kai-kun, kenapa denganmu?” Uruha berkata sambil menepuk-nepuk pipi Kai. “Kai-kun!! Apa aku terlalu keras memukulmu?”
Dengan segera Uruha membawa Kai ke ruang kesehatan dan memberitahukan kepada Aoi.
Aoi segera lari ke ruang kesehatan dan melihat kekasihnya pingsan di salah satu tempat tidur di ruang kesehatan. Aoi langsung menuju ke arah Kai dan segera mendekap tangan Kai.
Aoi melihat ada sedikit air mata di wajah Kai. Dengan lembut dia mengusap air mata di wajah Kai lalu mencium pipi Kai.
“Ada apa denganmu, Kai-chan?” tanya Aoi lirih.
“Aoi-chan,” mulut Kai memanggil nama kekasihnya itu.
“Kai-chan! Kau sudah sadar?” Aoi berdiri dan melihat Kai membuka matanya. Kai memaksakan dirinya bangun dari tempat tidur tapi Aoi menahannya.
“Doijoubu! Aku tidak apa-apa,” kata Kai. “Mana Uruha-kun?”
“Entahlah. Dia sudah pergi,” jawab Aoi.
Sampai pulang sekolah, Kai hanya bisa menunduk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Aoi menyadari bahwa ada yang aneh dengan Kai setelah dia pingsan.
“Kau tidak apa-apa, Kai-chan?” tanya Aoi khawatir dengan keadaan Kai.
“Daijoubu,” jawab Kai sambil menundukkan kepala.
Aoi menghentikan langkahnya. Dia mengangkat wajah Kai dengan lembut dan melihat air mata Kai sudah mulai jatuh. Dengan lembut Aoi mengusap air mata Kai dan mencium kening Kai.
“Aku tahu kau pasti mempunyai sesuatu yang kau sembunyikan dariku,” kata Aoi sabar.
Air mata Kai sudah tidak bisa tertahan. Kai memeluk Aoi dan menangis di pelukan Aoi.
“Aoi-chan, gomen na!” kata Kai sambil menangis.
“Nandayou?” tanya Aoi bingung. “Kenapa kau menangis?”
“Aku tidak bisa bersama Aoi-chan lagi,” Kai tetap tidak bisa menahan air matanya.
“Nani? Apa maksudmu?” tanya Aoi.
“Uruha-kun... Uruha-kun menyukai Aoi-chan,” jawab Kai tetap dengan air mata yang membasahi seragam Aoi.
“Kai-chan, sudahlah. Lalu kenapa kalau Uruha menyukaiku? Apa kau mau melepaskan aku? Apa kau mau mengorbankan hatiku demi temanmu?” kata Aoi ingin menenangkan Kai.
“Dengarkan aku, Kai-chan. Aku hanya mencintaimu. Tak ada yang lain apalagi Uruha. Memang dia menyukaiku dari dulu. Dia mengatakannya padaku berulang kali. Tapi aku selalu menghindar darinya. Dan aku merasa kau lebih pantas bersamaku daripada Uruha,” jelas Aoi panjang lebar.
Air mata Kai mulai bisa ditahan. Sedikit demi sedikit senyuman Kai kembali lagi. Lalu Aoi memeluk Kai dengan hangat.
TING... TONG!! Bel apartemen berbunyi. Padahal Uruha tidak pernah mempunyai tamu satu pun. Uruha membukakan pintu.
“Aoi-chan!” Uruha terkejut.
“Yosh! Uru-chan,” sahut Aoi. “Apa aku boleh masuk?”
“AH! Douzo! Masuk saja” Uruha mendadak menjadi panik dan gugup.
“Ternyata apartemenmu lumayan juga,” kata Aoi. Uruha sangat gugup sehingga dia mengeluarkan keringat dingin.
“A...Aoi... Tumben sekali kau kemari. A... Ada apa?” tanya Uruha saking gugupnya.
“Oh ya, aku hampir lupa alasanku datang kemari. Begini, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu,” jelas Aoi.
“A.. Apa? Duduk saja dulu,” Uruha mempersilakan Aoi untuk duduk.
“Ah, tidak perlu. Aku hanya sebentar saja. Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Aku dan Kai-chan sudah berpacaran,” kata Aoi tegas. Uruha seketika itu merasakan badannya lemas.
“Jadi kumohon dengan sangat, Uru-chan. Kumohon jangan ganggu dia lagi. Dan sebenarnya aku sudah tahu dari Kai bahwa kau yang memukulinya tadi pagi. Kau juga yang menyuruh tiga orang murid menghajar Kai,” kata Aoi.
Uruha bena-benar ingin pingsan saat itu juga. Namun dia selalu tegar menghadapi semua masalahnya.
“Kai memaafkanmu. Dia hampir saja menyerahkan aku padamu. Tapi sayang, aku menolaknya,” lanjut Aoi. “Nee, Uru-chan, masih banyak orang di luar sana yang lebih baik dari aku. Pasti kau akan mendapatkan orang itu,”
“Demo.. demo...” air mata Uruha menetes. “Aku hanya mencintaimu, Aoi-chan! Bahkan dari dulu aku mencintaimu,”
“Uru-chan, ingatlah. Aku tidak bisa meninggalkan Kai-chan. Karena aku mencintainya. Lagipula cinta membutuhkan pengirbanan. Dan cinta tak harus memiliki, Uru-chan,” Aoi menasehati Uruha.
“Doushite? Kenapa kau lebih menyukai Kai daripada aku” tanya Uruha.
“Entahlah. Aku merasakan ada perbedaan yang membuatku nyaman berada di dekat Kai-chan,” jawab Aoi. Sedikit demi sedikit aoi berjalan menuju ke arah Uruha. Lalu Aoi memeluk Uruha.
“A... Apa maksud ini semua? Kenapa kau memelukku? Bukankah kau tidak menyukaku?” tanya Uruha.
“Ini bukan pelukan antara sepasang kekasih. Ini adalah pelukan persahabatan. Walaupun kau tidak bisa memilikiku sebagai kekasih, tapi kau bisa memilikiku sebagai teman bukan?” kata Aoi.
“Maafkan aku juga karena aku tidak pernah bisa membuatmu tersenyum,” lanjut Aoi.
Uruha menangis di pelukan Aoi. Aoi menenangkan Uruha dalam dekapannya.
Kai dituntun Aoi untuk berjalan menuju sekolah karena dia masih merasakan sakit di perutnya. Saat merek di depan gerbang sekolah, Uruha mendatangi mereka.
“Ohayou Kai-kun! Ohayou Aoi-kun,” sapa Uruha dengan senyuman.
“Ohayou Uruha-kun!” sapa Kai.
“Kai-chan, aku minta maaf atas kelakuanku padamu. Aku mengaku salah. Gomen nasai! Maaf telah membutamu seperti ini,” ucap Uruha.
“Ah, daijoubu! Aku sudah memaafkan Uruha-kun dari dulu. Aku juga minta maaf pada Uruha-kun. Karena aku tidak tahu apa yang Uruha-kun rasakan,” kata Kai.
Tanpa basa-basi, Uruha memeluk Kai sebagai permintaan maafnya.
“Sudah, sudah. Jangan berpelukan di sini. Lebih baik kita masuk ke kelas. Jam pelajaran pertama hampir mulai,” kata Aoi mencairkan suasana.
Sunday, December 7, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment